Langsung ke konten utama

H.O.A.X

Kuis HOAX


1. HOAX? Apa sih itu?

Dalam dunia digital berita maupun informasi sering kita temui melalui media sosial, sayangnya berita maupun informasi yang kita dapatkan dari media sosial tidak semuanya berisikan kebenaran (bohong) atau yang kita kenal dengan ( HOAX ).

HOAX adalah informasi palsu, berita bohong, atau fakta yang diplintir dari kenyataan yang sebenarnya terjadi ( berita buatan ) atau direkayasa untuk tujuan lelucon maupun tujuan tertentu hingga serius (politis). Menurut Silverman (2015), HOAX merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, namun “dijual” sebagai kebenaran. Menurut Werme (2016), mendefiniskan FAKE NEWS, sebagai berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu. HOAX bukan sekedar “misleading” alias menyesatkan, informasi dalam fake news juga tidak memiliki landasan faktual, namun disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta.

Seiring popularitas media sosial Hoax berkembang dan juga dimanfaatkan oleh sekelompok orang maupun individu yang mempunyai tujuan untuk bersenang-senang (Having Fun) atau humor, namun juga tidak sedikit dilakukan untuk alat propaganda dalam tujuan politis, misalnya dalam melakukan pencitraan maupun sebaliknya memburukkan seseorang atau kelompok.

2. Pembahasan HOAX

Menurut pandangan psikologis, ada dua faktor yang dapat menyebabkan seseorang cenderung mudah percaya pada hoax. Orang lebih cenderung percaya hoax jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki (Respati, 2017). Contohnya jika seseorang penganut paham bumi datar memperoleh artikel yang membahas tentang berbagai teori konspirasi mengenai foto satelit maka secara naluri orang tersebut akan mudah percaya karena mendukung teori bumi datar yang diyakininya. Secara alami perasaan positif akan timbul dalam diri seseorang jika opini atau keyakinannya mendapat afirmasi sehingga cenderung tidak akan mempedulikan apakah informasi yang diterimanya benar dan bahkan mudah saja bagi mereka untuk menyebarkan kembali informasi tersebut. Hal ini dapat diperparah jika si penyebar hoax memiliki pengetahuan yang kurang dalam memanfaatkan internet guna mencari informasi lebih dalam atau sekadar untuk cek dan ricek fakta.
Terdapat 4 mode dalam kegiatan penemuan informasi melalui internet, diantaranya adalah:

1. Undirected viewing
Pada undirected viewing, seseorang mencari informasi tanpa tahu informasi tertentu dalam pikirannya. Tujuan keseluruhan adalah untuk mencari informasi secara luas dan sebanyak mungkin dari beragam sumber informasi yang digunakan, dan informasi yang didapatkan kemudian disaring sesuai dengan keinginannya.

2. Conditioned viewing
Pada conditioned viewing, seseorang sudah mengetahui akan apa yang dicari, sudah mengetahui topik informasi yang jelas, Pencarian informasinya sudah mulai terarah.

3. Informal search
Mode informal search, seseorang telah mempunyai pengetahuan tentang topik yang akan dicari. Sehingga pencarian informasi melalui internet hanya  untuk menambah pengetahuan dan pemahaman tentang topik tersebut. Dalam tipe ini pencari informasi sudah mengetahui batasan-batasan sejauh mana seseorang tersebut akan melakukan penelusuran. Namun dalam penelusuran ini, seseorang membatasi pada usaha dan waktu yang ia gunakan karena pada dasarnya, penelusuran yang dilakukan hanya bertujuan untuk menentukan adanya tindakan atau respon terhadap kebutuhannya.

4. Formal search 
Pada formal search, seseorang mempersiapkan waktu dan usaha untuk menelusur informasi atau topik tertentu secara khusus sesuai dengan kebutuhannya. Penelusuran ini bersifat formal karena dilakukan dengan menggunakan metode-metode tertentu. Tujuan penelusuran adalah untuk memperoleh informasi secara detail guna memperoleh solusi atau keputusan dari sebuah permasalahan yang dihadapi (Choo, Detlor, & Turnbull, 1999).
Perilaku penyebaran hoax melalui internet sangat dipengaruhi oleh pembuat berita baik itu individu maupun berkelompok, dari yang berpendidikan rendah sampai yang tinggi, dan terstruktur rapi. (Lazonder, Biemans, & Wopereis, 2000) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara seseorang yang memiliki keahlian khusus dalam menggunakan search engine dengan orang yang masih baru atau awam dalam menggunakan search engine. Mereka dibedakan oleh pengalaman yang dimiliki. Individu yang memiliki pengalaman lebih banyak dalam memanfaatkan search engine, akan cenderung lebih sistematis dalam melakukan penelusuran dibandingkan dengan yang masih minim pengalaman (novice).
Berita hoax semakin sulit dibendung walaupun sampai dengan 2016 pemerintah telah memblokir 700 ribu situs, namun setiap harinya pula berita hoax terus bermunculan. Pada Januari 2017 pemerintah melakukan pemblokiran terhadap 11 situs yang mengandung konten negatif, namun kasus pemblokiran tersebut tidak sampai menyentuh meja hijau. Beberapa kasus di indonesia terkait berita hoax telah memakan korban, salah satunya berita hoax akan penculikan anak yang telah tersebar di beberapa media sosial dan menyebabkan orang semakin waspada terhadap orang asing,

Jenis-jenis Informasi Hoax :

1. Fake news/Berita bohong, Berita yang berusaha menggantikan berita yang asli. Berita ini bertujuan untuk memalsukan atau memasukkan ketidakbenaran dalam suatu berita. Penulis berita bohong biasanya menambahkan hal-hal yang tidak benar dan teori persengkokolan, makin aneh, makin baik. Berita bohong bukanlah komentar humor terhadap suatu berita.
2. Clickbait/Tautan jebakan, Tautan yang diletakkan secara stategis di dalam suatu situs dengan tujuan untuk menarik orang masuk ke situs lainnya. Konten di dalam tautan ini sesuai fakta namun judulnya dibuat berlebihan atau dipasang gambar yang menarik untuk memancing pembaca.
3. Confirmation bias / Bias konfirmasi, Kecenderungan untuk menginterpretasikan kejadian yang baru terjadi sebaik bukti dari kepercayaan yang sudah ada.
4. Misinformation, Informasi yang salah atau tidak akurat, terutama yang ditujukan untuk menipu.
5. Satire, Sebuah tulisan yang menggunakan humor, ironi, hal yang dibesar-besarkan untuk mengkomentari kejadian yang sedang hangat. Berita satir dapat dijumpai di pertunjukan televisi seperti “Saturday Night Live” dan “This Hour has 22 Minutes”.
6. Post-truth/Pasca-kebenaran, Kejadian di mana emosi lebih berperan daripada fakta untuk membentuk opini publik.
7. Propaganda, Aktifitas menyebar luaskan informasi, fakta, argumen, gosip, setengah-kebenaran, atau bahkan kebohongan untuk mempengaruhi opini publik.


Cara mengenali berita Hoax

1. Judul berita dibuat bombastis
Bombastis maksudnya, judul berita dibuat aneh, semakin aneh semakin menarik.
Terkadang memilih kata dan kalimat tidak biasa. Kadang memakai berita yang lagi viral dan di ubah sedikit supaya lebih menarik.


2. 
Isi berita berupa teror atau hasutan
Karena tujuan pesan palsu untuk kepentingan pribadi. Maka isi berita biasanya:

• Terkesan menakut nakuti atau menyesatkan penerima pesan.
• Meneror seseorang atau suatu kelompok agar orang merasa takut.
• Provokatif atau mengadu domba agar terjadi kekacauan.
• Menghujat seseorang atau kelompok.
• Memuji secara berlebihan.


3. Cek URL sumber berita
Salah satu ciri berita palsu bisa dilihat dari link yang disertakan. Lihat domain apakah dari web terpercaya. Terpercaya maksudnya yang umum.

4. Gambar terlihat tidak natural
Gambar kadang sulit dibedakan mana yang asli atau bukan. Ini karena sudah semakin maju teknologi saat ini. Pada umumnya mereka mengedit foto dengan software Photoshop. Tapi kadang ada saja yang tidak wajar pada gambar tersebut.


5. Mengandung kata-kata aktif
Mengandung kata aktif maksudnya bersifat ajakan untuk berbuat sesuatu. Bisa ajakan anarki atau hanya sekedar meminta disebarkan kembali.


Contoh:
• Sebarkan ke teman, jangan sampai putus di tangan Anda.
• Baca pesan ini dalam 5 menit akan di hapus otomatis
• Sudah banyak tertipu, berhati-hatilah,
• Menyertakan link sumber, tapi tidak jelas, link aneh, tidak valid.
• Kadang menjual nama stasiun TV atau web berita terkenal.


Contoh: Sudah masuk di detik.com atau disiarkan di RCTI tanggal sekian jam sekian. Padahal itu cuman karangan doang.

6. Cek tanggal sumber berita
Jika sudah curiga dengan suatu pesan, berita hoax atau bukan? Yang pertama kali dicek adalah tanggal sumber berita. Kunjungi link sumber atau cari di Google dengan kata kunci yang sama. pastikan waktu kejadian. Bisa jadi berita yang dikabarkan benar, tapi waktu kejadiannya sudah lama. Kasus yang diberitakan sudah tidak berpengaruh lagi saat ini.


7. Bandingan dengan berita lain
Supaya lebih yakin berita tersebut hoax atau bukan dengan mencari berita yang sama tapi web berbeda.


8. Cek foto asli atau hasil editan
Kita perlu cek gambar hoax atau bukan? Banyak cara untuk mengecek keaslian sebuah foto. 

9. Cross check di Google
Cara cek gambar di Google adalah. Search mengunakan kata kunci gambar tersebut, kemudian klik image atau gambar pada navigasi atas. Nanti akan muncul banyak gambar berkaitan dengan foto tersebut. Biasanya gambar palsu hanya ada 1 sudut pandang. Maksudnya hanya diambil dari satu posisi saja. Jika hanya 1 foto saja kemungkinan gambar itu palsu. Jika gambar asli, terdapat beberapa gambar lain dengan sudut pandang berbeda.
Coba dipikir saja pakai akal, jika kejadian aneh tidak mungkin orang mengambil hanya 1 foto saja.


Cara Mengenali HOAX dari Polri "Satgas Black Campaign"

Contoh Kasus HOAX

Kasus HOAX di Indonesia sangat banyak sekali, seperti pada tahun 2017 tepatnya bulan Oktober. Ada salah satu akun Facebook yang menyebarkan berita HOAX, seolah Menteri Keuangan menyatakan jika rakyat mengijinkan maka negara Indonesia akan menjual pulau Bali untuk membayar hutang. Namun, berita itu langsung di bantah oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati.

Lalu, ada HOAX tentang survey pilpres dari IndoBarometer, terdapat "MEME"  yang memberitahukan hasil survey dan mencatut IndoBarometer. Sontak langsung dibantah oleh M Qodari, selaku Direktur Eksekutif IndoBarometer. Meme tersebut menyebar luas melalui pesan singkat Whatsapp.

HOAX Survey IndoBarometer tentang hasil Paslon Pilpres 2019


Menurut analisa saya, Berita HOAX yang tersebar di sosial media adalah tindakan oknum tertentu untuk membuat heboh atau resah di masyarakat. Atau hanya untuk Having Fun atau iseng belaka dari oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Seperti berita kalau Pulau Bali akan di jual untuk membayar hutang negara, sedangkan data yang ada menunjukan bahwa perekonomian Indonesia sedang berada dalam tren positif, ini jelas bertentangan dengan berita hoax tersebut. Bahkan dalam pertemuan tahunan IMF tahun 2018 ini, IMF menyatakan bahwa perekonomian Indonesia sangat sehat, dan tidak ada indikasi terancam krisis keuangan global, padahal saat ini di dunia sedang mengalami krisis ekonomi global dengan hancurnya perekonomian beberapa negara maju dan berkembang.

Kemudian tentang hasil survey pilpres, ini jelas menunjukan bahwa oknum tersebut mendukung salah satu paslon, dan ketika hasil tak sesusai dengan yang dia harapkan. Oknum tersebut membuat HOAX untuk menunjukan bahwa paslon yang dia dukung menang dalam survey, untuk membuat itu lebih meyakinkan, oknum tersebut mencatut nama lembaga survey terbesar di Indonesia.

Referensi

AKBP Ardiyanto Tedjo Baskoro, SH, SIK, MH. 2018. "POLRI vs HOAX"

Abner, Khadir, Mohammad Ridho Abdillah, Rizky Bimantoro, Weiby Reinaldi. 2017.
"Penyalahgunaan Informasi/Berita HOAX Di Media Sosial".
http://mti.binus.ac.id/icasce2013/single/penyalahgunaan-informasiberita-hoax-di-media-sosial/ pada 3 July 2017

Prayitno, Budi. 2017. "Langkah Pemerintah Menangkal Diseminasi Berita Palsu".
http://jwk.bandung.lan.go.id/ojs/index.php/jwk/article/view/19 pada 12 September 2017

Rianto Rahadi, Dedi. 2017. "PERILAKU PENGGUNA DAN INFORMASI HOAX DI MEDIA SOSIAL". http://jurnal.unmer.ac.id/index.php/jmdk/article/view/1342


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisa E-Bisnis Dari Agoda

AGODA Halooo, udah lama rasanya saya tidak menulis dalam blog ini. Maklum lagi banyaknya tugas kuliah, hehe :D Kali ini saya akan mengulas sedikit analisa saya tentang Agoda.com, sebuah platform pemesanan atau booking hotel yang saya dan mungkin juga kalian sering gunakan untuk memesan tempat menginap ketika liburan, atau ada kebutuhan diluar kota yang harus membuat kita menginap baik itu hotel maupun properti non-hotel. Analisa ini juga untuk tujuan tugas mata kuliah e-bisnis Yuk, langsung saja kita bahas bersama... Logo Agoda Berbicara tentang booking atau pemesanan hotel bagi anda yang sudah sering jalan-jalan atau liburan pasti menjadi sebuah kebutuhan pokok. Sudah banyak platform penyedia layanan booking hotel secara online, dan salah satunya adalah Agoda . Sebagai platform penyedia layanan booking hotel terbesar di Asia Pasifik dan terus berkembang untuk mencapai pasar Global secara lebih luas tentu saja tidak bisa kesampingkan sebagai salah satu rekomendasi untu...

Perkembangan Teknologi Telekomunikasi

1.   Perkembangan Teknologi 1G, 2G, 3G, 3.5G, 4G Dan 5G Perkembangan Teknologi Telekomunikasi Huruf “G” pada setiap Teknologi pada1G, 2G, 3G, 3.5G, 4G Dan 5G adalah Generasi. Teknologi sekarang sudah sangat maju dan GPRS, EDGE, UMTS, HSDPA adalah generasinya. GPRS adalah generasi pertamanya disusul dengan Edge dengan memberikan layanan agak cepat lalu 3G dengan menghadirkan layanan tercepat dan akhirnya teknologi sekarang 3.5G menyingkirkan semua dengan menghadirkan layanan sangat cepat untuk mengakses data, dan mungkin akan hadir layanan 4G. 2.         Perjalanan Generasi G berarti Generation dan berhubungan dengan kecepatan transmisi data          1G – Original analog cellular for voice (AMPS, NMT, TACS) 14.4 kbps       2G – Digital narrowband circuit data (TDMA, CDMA) 9-14.4 kbps       3G – Digital broadband packet data (CDMA, EV-DO, UMTS, EDGE) 500-700 kbps ...

Algoritma Kriptografi Modern (RSA)

Kriptografi Algoritma Kriptografi Modern Kriptografi bertujuan menjaga kerahasiaan informasi yang terkandung dalam data sehingga informasi tersebut tidak dapat diketahui oleh pihak yang tidak sah. Dalam menjaga kerahasiaan data, kriptografi mentransformasikan data jelas (plaintext) ke dalam bentuk data sandi (ciphertext) yang tidak dapat dikenali. Ciphertext inilah yang kemudian dikirimkan oleh pengirim (sender) kepada penerima (receiver). Setelah sampai di penerima, ciphertext tersebut ditransformasikan kembali ke dalam bentuk plaintext agar dapat dikenali. Proses tranformasi dari plaintext menjadi ciphertext disebut proses Encipherment atau enkripsi (encryption), sedangkan proses mentransformasikan kembali ciphertext menjadi plaintext disebut proses dekripsi (decryption). Kriptografi menggunakan suatu algoritma (cipher) dan kunci (key). Cipher adalah fungsi matematika yang digunakan untuk mengenkripsi dan mendekripsi. Sedangkan kunci merupakan sederetan bit yang diperlukan...